Survei SMRC: Masyarakat Tak Percaya dengan Fake News Terhadap Jokowi

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) kembali mengeluarkan hasil survei nasional jelang pencoblosan Pemilihan Presiden atau Pilpres pada 17 April 2019 mendatang. Survei mengambil tema Kondisi Ekonomi, Mobilitas Identitas, dan Pilpres 2019 - Evaluasi Publik Nasional.

Survei kali ini salah satunya membahas soal Mobilisasi Politik Identitas dan Ideologi: Isu Palsu (Fake News) tentang calon presiden (capres) petahana Joko Widodo.



Beberapa pertanyaan diajukan kepada para responden tentang isu palsu atau fake news yang menerpa Jokowi. Pertanyaan pertama adalah apakah setuju bahwa Presiden Jokowi merupakan orang atau terkait dengan PKI?

Hasilnya, 73 persen masyarakat mengaku tidak setuju dengan pertanyaan tersebut, 6 persen setuju, dan 22 persen tidak tahu atau tidak jawab.

Pertanyaan kedua adalah apakah setuju bahwa Presiden Jokowi kaki tangan RRC? Hasilnya, 69 persen tidak setuju, 10 persen setuju, dan 21 persen tidak tahu atau tidak jawab.

Pertanyaan ketiga survei adalah apakah setuju bahwa Presiden Jokowi anti Islam? Hasilnya, 76 persen tidak setuju, 6 persen setuju, dan 18 persen tidak tahu atau tidak jawab.

Hasilnya, opini-opini negatif tentang latar belakang Jokowi dan tindakan-tindakannya yang sering muncul di media massa, terutama media sosial, sejauh ini hanya diyakini oleh relatif sedikit warga.

Warga yang yakin dengan opini negatif yang tak berdasar fakta atau fake news, trendnya relatif stabil dan rata-rata di kisaran 6 persen.

Analisis lebih detil dan lebih menyeluruh di bawah menunjukan bila yang mempercaya opini negatif dan mobilisasi identitas itu naik akan berpengaruh negatif terhadap Jokowi.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 2.820 responden.

Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) pada survei Februari-Maret ini sebesar 2.479 atau 88 persen.

Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel tersebut sebesar ± 2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.

No comments

Powered by Blogger.