Simak Perbandingan Tenaga Kerja Industri Dari Tahun 2015 Sampai 2017

Simak Perbandingan Tenaga Kerja Industri Dari Tahun 2015 Sampai 2017
Industri tekstil dan produk tekstil diproyeksikan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan peningkatan permintaan produk tekstil di dalam negeri dan ekspor.

Ansari Bukhari, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, mengatakan kebutuhan pekerja di industri TPT tidak hanya berupa kuantitas, tetapi juga diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusianmelalui program pelatihan.

"Industri TPT merupakan salah satu produk andalan industri manufaktur dan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional," katanya, Selasa (5/2).

Ansari membuka secara resmi pelatihan tenaga kerja industri garmen di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta, didampingi Kapusdiklat Mujiono, Kepala BDI Jakarta Abdillah Benteng, dan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat.

Kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut, kata Ansari, tidak hanya mengalami peningkatan di tingkat operator, tetapi tingkat ahli dengan permintaan rata-rata 500 orang per tahun.

Adapun, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Kemenperin hanya mampu meluluskan 300 orang setiap tahun sehingga dibutuhkan pelatihan tambahan bekerja sama dengan perusahaan TPT di sejumlah daerah.

KERJA SAMA

Pada kesempatan yang sama, BDI Jakarta menandatangani nota kesepahaman mengenai penempatan tenaga kerja untuk peserta pelatihan basis kompetensi di bidang garmen dengan 10 pengusaha anggota API.

"Prospek pertumbuhan industri TPT akan semakin baik karena permintaan pasar di dalam negeri meningkat dan konsumsi dunia juga tinggi," katanya.

Dia menuturkan industri TPT nasional berpeluang memanfaatkan pasar dunia dengan pembatasan impor produk dari China ke Amerika, Eropa dan beberapa negara Amerika Latin sebagai salah satu pasar ekspor Indonesia.

Selain itu, paparnya, kondisi ini juga didukung dengan mahalnya biaya tenaga kerja di Pantai Timur China yang merupakan basis industri TPT China, sehingga diyakini ada nya relokasi industri ke negara lain, seperti Bangladesh, Vietnam, salah satunya termasuk Indonesia.

"Indonesia bersaing ketat dengan negara-negara tersebut untuk menarik investasi. Biaya tenaga kerja di Indonesia relatif lebih tinggi dari ke dua negara tersebut, maka itu Indonesia harus mempunyai keunggulan," tuturnya.

Ansari mengharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi dan kemampuan tenaga kerja industri yang siap pakai dalam bidang garmen untuk mendukung efisiensi dan produktivitas, serta meningkatkan daya saing.

Menurutnya, peluang pasar ekspor bagi Industri TPT sangat terbuka karena mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi, desain baru, dan kemampuan pasok yang lebih cepat dibandingkan negara saingan.

No comments

Powered by Blogger.