Meski Rupiah Melemah, Harga Daging dan Telur Ayam Tetap Stabil

Meski Rupiah Melemah, Harga Daging dan Telur Ayam Tetap Stabil

Biaya pakan ternak mengalami kenaikan hingga Rp 500 karena penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Namun, di tengah kondisi tersebut harga jual daging ayam dan telur tetap stabil.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Singgih Januratmoko mengatakan saat ini harga daging ayam dan telur masih di tingkat peternak tidak mengalami kenaikan. Sebab harga komoditas tersebut dipengaruhi permintaan dan pasokan.

"Jadi memang harga telut ayam juga daging suam stabil. Daging ayam di tingkat peternak Rp 16.000 sampai Rp 18.000 per kilogram (kg) kalau pasaran tetap Rp Rp 38.000 sampai Rp 40.000 per kg," jelas dia.

"Kalau telur di peternak Rp 18.000 sampai Rp 20.000 per kg. Di pasar Rp 23.000 sampai 25.000 per kg, stabil," sambung dia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan hal tersebut membuat kerugian. Untuk itu Singgih terpaksa mengurangi margin keuntungan demi mengatasi kenaikan biaya pakan ternak.

"Margin dikurangi, ini malah rugi kan harga pokok penjualan (HPP) telur ayam Rp 18.000 sampai Rp 20.000 per kg. Nah biaya produksi juga sama Rp 18.000 sampai Rp 19.000," tutur dia.

"Kalau daging ayam Rp 16.000 sampai Rp 18.000 per kg dan HPP kan Rp 18.000 sampai Rp 19.000 per kg. Jadi mengurangi margin dan rugi," tutup dia.

Sebagai informasi, bahan baku pakan ternak sebanyak 35% selama ini masih diimpor. Adapun komoditas yang diimpor adalah bungkil kedelai dan tepung daging.

No comments

Powered by Blogger.