Membongkar Inkonsistensi Pernyataan Bambang Widjojanto

Dalam berbagai kesempatan tampil di media, Bambang Widjojanto (BW) mengklaim dirinya sebagai
“advokat bersih”. Bahkan ketika tampil bersama dengan Hotman Paris Hutapea di Metro TV, BW dengan percaya diri menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mau menjadi advokat kasus korupsi.

Faktanya, BW pernah beberapa kali menjadi advokat kasus korupsi seperti kasus bailout Century, dan kasus Jhony Abbas.


Membongkar Inkonsistensi Pernyataan Bambang Widjojanto

Kredibilitas BW sudah jauh-jauh hari dipermasalahkan. Bambang pernah membangkang terhadap putusan MA terkait konflik Universitas Trisakti. Saat itu BW berperan sebagai advokat mantan Rektor Toby Muthis yang dikalahkan oleh Yayasan Universitas Trisakti. BW juga pernah dilaporkan ke Bareskrim Polri dengan tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah terkait konflik Trisakti. Selain ke Bareskrim Polri, BW juga dilaporkan ke Dewan Kehormatan Peradi karena dinilai telah melanggar kode etik sebagai pengacara dimana saat eksekusi BW dianggap telah menghalang-halangi putusan Mahkama Agung.

Drama inkonsistensi BW berlanjut ketika dirinya dinyatakan sebagai tersangka kasus saksi palsu. Secara lantang BW pidato dihadapan pendukungnya bahwa pelapor kasus saksi palsu tidak memiliki legal standing karena tidak ada kerugian yang diderita oleh pelapor.

Rupanya BW sudah pikun atau pura-pura pikun. Sugianto, pelapor kasus saksi palsu adalah bupati terpilih hasil pilkada Kota Waringin Barat yang demokratis dan sudah disahkan oleh KPU. Akhirnya, kemenangan Sugianto dianulir oleh MK hanya gara-gara saksi palsu. Jadi sangat jelas Sugianto adalah orang yang paling dirugikan dengan kasus saksi palsu.

Dengan fakta yang terang benderang, kok bisa-bisanya BW menyatakan bahwa pelapor tidak memiliki legal standing karena tidak ada kerugian yang diderita oleh pelapor.

Dan semakin mendekati hari penahanan sepertinya BW semakin panik. Kemarin BW protes keras karena dalam undangan pemeriksaannya sebagai tersangka ada pasal baru.

Padahal ketika menjadi pimpinan KPK, BW sudah terbiasa menambah pasal baru dan menambahkan kata “dan lain-lain” dalam sprindik untuk menjerat tersangka.

Coba bandingkan lebih tidak jelas mana penambahan pasal dengan penambahan kata “dan lain-lain” dalam kasus pidana?

Ketika menjadi pimpinan KPK, BW berulangkali menuduh AU dan BG telah melakukan obstruction of justice.

Dan faktanya, kini justru BW yang menjadi tersangka dengan tuduhan mengarahkan saksi untuk memberikan keterangan palsu pada persidangan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi.

Ketika menjadi pimpinan KPK, berulangkali BW meminta kepada semua penyelenggara Negara yang sudah menjadi tersangka agar mundur dari jabatannya. Bahkan lebih spesifik lagi dalam kasus BG, BW dengan lantang menuduh BG telah merusak tatanan negara karena tidak mau mundur setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Dan faktanya, BW yang secara de facto bukan lagi pimpinan KPK ketika dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri tapi masih ngotot menyatakan bahwa dirinya adalah pimpinan KPK sebelum ada Keppres pemberhentian dari presiden. Bahkan sebelum Keppres pemberhentian dari presiden turun, BW masih sempat melontarkan isu prokasi terkait adanya terror. Tak hanya melemparkan isu terror, untuk melindungi dirinya BW juga menggalang dukungan massa di gedung KPK dan memproklamasikan bahwa dirinya adalah korban kriminalisasi.

Aneh bin ajaib, ketika ada orang yang berhati iblis dan berjubah malaikat tapi tetap dipuja dan dielu-elukan sebagai pahlawan pemberantasan korupsi. Salam aneh….

No comments

Powered by Blogger.