Kondisi BUMN di Era Jokowi Terbukti Sangat Baik

Kondisi BUMN di Era Jokowi Terbukti Sangat Baik

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, kinerja badan usaha milik negara (BUMN) berada di trek yang benar.

“Kinerja BUMN masih dipertanyakan? BUMN sekarang ini justru dalam keadaan sehat. Kinerjanya terus membaik bahkan menjadi sangat positif pada era kepemimpinan Pak Jokowi,” kata Moeldoko.

Sepanjang 2017 lalu, sebanyak 143 perusahaan pelat merah mampu membukukan laba sebesar Rp 187 triliun.

Penjelasan mantan Panglima TNI tersebut bukan tanpa dasar. Semuanya berbasis fakta, berupa data-data valid. Berdasarkan laporan Kementerian BUMN, profit naik 30 persen dalam 3 tahun terakhir. Sepanjang 2017, BUMN melalui 143 perusahaannya mendapatkan keuntungan Rp 187 Triliun. Jumlah tersebut pun surplus Rp44 Triliun. Pada akhir 2014, keuntungan BUMN berada di grid Rp143 Triliun.

“BUMN sangat kompetitif. Semuanya tumbuh setiap tahun. Keuntungan yang didapatkan oleh BUMN dalam tiga tahun terakhir naik cukup signifikan. Total keuntungan tahun 2017 kemarin sampai Rp 187 Triliun. Ini jumlah angka yang besar,” kata Moeldoko.

Meledaknya keuntungan BUMN pun berbanding lurus dengan penyusutan kerugian. Pada 2017 lalu, hanya 12 BUMN saja yang rapornya merah. Padahal pada 2016, jumlah rapor minor masih dimiliki 26 BUMN. Bila diuangkan, jumlah kerugian 12 BUMN tersebut mengecil mejadi Rp5,2 Triliun. Penyusutan kerugian memang tipis, lantaran pada 2016 berada di angka Rp 6,7 Triliun.

“Sebenarnya tidak ada masalah. Keuntungan global besertanya asetanya tumbuh sangat signifikan. Ini tentu capaian luar biasa. Memang ada beberapa BUMN yang masih terseok-seok. Namun, semuanya ini sudah dievaluasi dan perbaikan sudah dilakukan terhadapnya. Kami optimistis, tahun ini semua akan lebih kompetitif,” tegasnya.

Derasnya arus inkam yang masuk pun membuat posisi hutang luar negeri BUMN aman. Mengacu data dari Kementerian BUMN, beban hutan luar negeri perusahaannya sekitar Rp453 Triliun. Jumlah tersebut hanya 10% dari total hutan luar negeri keseluruhan. Dengan aset besar hingga Rp 7.200 Triliun dan nilai keuntungan kompetitif, risiko gagal bayar pun akan jauh dari BUMN.

“Tidak ada masalah dengan posisi hutang luar negeri dari BUMN. Semuanya ini sudah dikalkulasikan dengan bagus. Posisi hutang semuanya aman dan bisa terselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Hutang luar negeri BUMN memang mencapai Rp 453 Triliun atau 6,29 persen dari aset. Namun, anggaran tersebut digunakan untuk hal-hal produktif. Dana pinjaman yang masuk digunakan untuk pembiayaan infrastruktur tol, bandara, pelabuhan, dan IPP. Selain berbagai keuntungan jangka panjang, pembangunan infrastruktur juga bisa memiliki nilai "multiplier effect" yang besar bagi masyarakat.

“Langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh BUMN sudah tepat. Mereka juga sangat memikirkan kemanfaatan secara ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Pada akhirnya masyarakat ini yang sejahtera,” tutupnya

No comments

Powered by Blogger.