Bank Mandiri Optimis Raup Untung Rp 24 Triliun Hingga Akhir Tahun

Bank Mandiri Optimis Raup Untung Rp 24 Triliun Hingga Akhir Tahun
PT Bank Mandiri Tbk optimis bisa meraup laba bersih hingga akhir tahun ini mencapai Rp24 triliun. Hingga kuartal ketiga tahun ini, perseroan tercatat telah mengantongi Rp18,1 triliun, tumbuh 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan menjelaskan kenaikan laba perseroan di kuartal III diperkirakan bakal memuluskan perseroan mengantongi target laba hingga akhir tahun sebesar Rp23 triliun. Ia bahkan optimis laba perseroan bisa mencapai Rp24 triliun.

"Kami yakin betul, sisa 2,5 bulan ini akan sangat bisa mencapaikan Rp22-24 triliun untuk laba konsolidasi," kata Panji di Jakarta, Rabu (17/10). 

Adapun kenaikan laba Bank Mandiri hingga kuartal ketiga didorong oleh kenaikan pertumbuhan kredit dan turunnya biaya pencadangan untuk kredit bermasalah.

Hingga kuartal ketiga tahun ini, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 13,8 persen secara tahunan menjadi Rp781,1 triliun. Namun, pendapatan bunga bersih perseroan hanya berhasil naik 4,2 persen menjadi Rp40,5 triliun, sedangkan pendapatan nonbunga meningkat 11,4 persen menjadi Rp18,75 triliun.

Di sisi lain, Bank Mandiri menurunkan biaya pencadangan sebesar 10,3 persen dari Rp12,2 triliun menjadi Rp10,96 triliun. Hal ini lantaran turunnya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross perseroan sekitar 74 bps ke kisaran 3,01 persen.

Biaya pencadangan biasanya dialokasikan perbankan untuk menutup kredit yang berakhir macet. Biaya ini diambil dari laba bersih.

"Penurunan rasio NPL terutama didorong keberhasilan perseroan dalam melakukan restrukturisasi serta berkelanjutan, di samping pemantauan potensi bisnis debitur secara ketat sehingga dapat membantu debitur memenuhi kewajibannya," ujar Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto.

Selain meningkatkan kualitas kredit, Sulaiman menjelaskan pihaknya saat ini fokus mendorong penyaluran kredit produktif, salah satunya di sektor infrastruktur. Hingga September 2018, perseroan telah menyalurkan kredit infrastruktur sebesar Rp169,8 triliun atau 63,9 persen dari total komitmen sebesar Rp265,7 triliun.

Di sisi lain, Bank Mandiri mencatat penyaluran Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga September 2018 sebesar 9,2 persen menjadi Rp761,5 trilun. Seiring pertumbuhan kredit yang lebih besar dari DPK, rasio likuiditas (LDR) perseroan meningkat dari 89,92 persen menjadi 93,53 persen.

No comments

Powered by Blogger.